Di Quran Centre Batam Santri Bisa Belajar Gratis

Selasa, 27 Februari 2018 | 22:06 Reportase Siswa
Image
Ilustrasi

SEBANYAK 50 orang santri yang dibina di Qur'an Centre sedang menikmati masa liburan sekolah. Mereka pun mengisi kegiatan sehari-hari dengan hal-hal sederhana dan bertamasya.

Hanya beberapa  santri yang tidak mengikuti kegiatan ini yang bisa ditemui, termasuk Mukhlis Saputra Makmur. Ia adalah santri yang cukup berprestasi dari hasil pendidikan di lembaga yang berada di Sekupang.

Santri yang ditampung oleh lembaga ini adalah orang-orang yang memiliki potensi dalam bidang seni baca al Quran (qiro'ah) ataupun menghafal al Quran (tahfidz).

Kedua hal tersebut, merupakan fokus pembelajaran bagi setiap santri yang dipersiapkan untuk pengembangan dan kaderisasi bagi terciptanya qari dan hafidz. Meski demikin, ada juga pelajaran lain yang juga diajarkan di sana.
Quran Centre memang sudah cukup terkenal di kalangan masyarakat Batam dan Kepri.

Bagaimana tidak, lembaga ini sudah melahirkan santri yang berprestasi di tingkat nasional bahkan international. Muklish, misalnya, adalah satri yang pernah meraih sebagai juara satu lomba tilawatil Quran tingkat ASEAN yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 2008 lalu.

"Di sini adalah tempat pembinaan bagi santri yang ingin menimba ilmu-ilmu al Quran. Memang saat ini yang muncul dan dikenal orang adalah bagian tilawahnya. Karena, ada tiga orang anak asuh kami yang sudah juara di tingkat nasional," kata Wakil Direktur Qur'an Centre, Bapak Asril Arief kepada Tribun.

Sebenarnya, ilmu yang dipelajari di yayasan ini tidak terbatas. Di sini mempelajari seluruh ilmu yang terkait dengan Al Quran. Lembaga yang diresmikan tahun 2005 ini tak ingin sekadar mengantarkan santrinya menjadi pembaca Al Quran (qari) dan penghafal Al Quran (hafiz), tetapi juga mendidik mereka agar menguasai ilmu-ilmu Al Quran. Membumikan Al Quran itulah yang menjadi bagian dari harapan Quran Centre.

Dengan berbagai prestasi yang diperoleh, yayasan ini pun sering mendapatkan kunjungan dari berbagai daerah, termasuk juga dari negeri jiran Malaysia. Bahkan, seorang mentri dari negeri Malaka Malaysia menyumbang pembangunan asrama yang terletak di belakang dua gedung sekolah.

Karena itu pula, nama asrama itu diberi nama sang menteri, yakni YAB. Datuk Seri Haji Mohd Ali bin Haji Mohd Rustam.

Para santri yang dibina di sekolah ini adalah santri yang berasal dari berbagai daerah. Mereka datang dari beberapa kota dan kabupaten yang berada di Kepri. Mereka juga tidak perlu membayar biaya selama berada di Quran Centre karena semuanya telah ditanggung oleh pihak yayasan.

Meski demikian, bukanlah hal gampang untuk bisa menjadi santri di sana. Syarat utamanya adalah tentu memiliki kelebihan dalam ilmu-ilmu al Quran itu. Mereka juga akan diseleksi secara ketat dari sekian banyak kandidat yang akan mendapatkan pendidikan khusus, barulah kemudian mereka terpilih untuk belajar di asrama.

"Walaupun tempatnya di Batam, tetapi tidak hanya santri dari Batam. Santi yang berada di sini berasal dari berbagai daerah yang ada di Kepri. Prosesnya cukup ketat karena kita ingin bibit unggul bagus. Kami juga tidak memberikan kuota khusus bagi setiap daerah, tetapi kami hanya akan menerima mereka yang memiliki kemampuan lebih," terang Asril lagi.

Seiring dengan pertumbuhannya, Quran Centre pun membuka sekolah formal pada tahun ajaran ini, yakni sekolah SMP dan MA. Keduanya merupakan lembaga sekolah formal yang akan menerima setiap siswa. Para siswa pun nantinya akan mendapatkan tambahan pelajaran, sehingga siswa yang sekolah di sana memiliki pemahamaan keagamaan yang lebih.

"Pendidikan formal ini untuk menampung para siswa yang ingin mendalami al Quran dan ilmu agama secara umum. Jadi mereka akan mendapatkan tambahan pelajaran. Sedangkan 50 orang santri khusus itu sengaja untuk dibimbing menjadi santri yang memiliki prestasi," kata Wakil Direktur Bidang Pendidikan, Bapak Abu Bakar Hamid, beberapa waktu lalu.

Untuk menunjang kebutuhan para santri, yayasan juga menyediakan laboratorium komputer. Hal itu digunakan agar santri tidak gaptek alias gagap teknologi, apalagi perkembangan saat ini cukup pesat dan harus ditunjang pula dengan kemampuan teknologi. Menurut Abu Bakar, pihaknya hanya memfasilitasi kemampuan dari setiap siswa.

"Pendidikan khusus mencetak santri dan siswa  berprestasi khusus, nantinya akan dikirim mewakili Kepri di tingkat nasional maupun Internasional," jelasnya. (man)

http://batam.tribunnews.com/2011/07/13/di-quran-centre-batam-santri-bisa-belajar-gratis